Postingan

Sebuah Renungan Harian "Niat Baik"

Niat baik terkadang jadi bumerang Aku mungkin bukan orang kaya berlimpah harta tapi aku orang yang tak bisa tinggal diam saat orang lain kesulitan Nuraniku mengajarkanku lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah Tak pernah terbersit sedikit pun meminta timbal balik Bahkan tak pernah mengharapkan balas budi Keiklasan dan ketulusan yang tertanam tapi apa yang kulakukan menurutku baik belum tentu baik menurut orang lain Harus berhati-hati dalam memberikan sebuah kebaikan jika perlu di tawarkan Jangan sampai niat baik itu menjadi sebuah penghinaan dan salah paham dikira merendahkan Pengalaman mengajarkanku bahwa niat baik itu jangan sampai menjadi bumerang Berbalik menyerang dan menjatuhkan

Hatiku Hanya Untuk Kekasihku

Setiap kenangan selalu menyisakan kesedihan Tak berarti kukan larut dalam kesedihanku Setiap peristiwa mengajarkanku untuk kuat, sabar dan tegar Tak kan pernah kesedihanku kubawa pada kesenangan sesaat. Aku terlalu setia pada diriku Untuk tak berbagi hati dan rasa Rasa sayangku Rasa cintaku dan kesetiaanku Akan kuberikan hanya pada satu kekasihku yang kan menyayangiku, mencintaiku dan setia padaku Kekasihku yang hidupnya hanya untukku Kekasihku yang bisa menerima segala kekuranganku Kekasihku yang setia tak kan berbagi hati selain diriku Kekasihku yang punya tujuan hidup sejalan denganku Kekasihku yang nantinya akan menghapus kesedihanku Biarlah kenangan lalu hanya sebuah kenangan Tak kan kutoleh ke belakang Jika itu hanya menyisakan kesedihan Kan kucari kekasihku Kan kunanti kekasihku Tuk bersama menjemput impian yang tertinggal

Selamat Tinggal Sepi

Sepiku tak pernah mati Aku hanya bisa mencaci...memaki Mengutuk diri tiada henti Bodohnya aku.......... Kubiarkan kuncup layu sebelum mekar Kuabaikan pelangi setelah hujan Kukatupkan mata kala mentari diufuk bersinar Hidup ini terlalu indah Sampai kapan detik waktu terus kubiarkan berjalan Sampai kapan waktu berlalu tanpa sapa Ingin kubunuh sepiku Yang selalu mentertawakanku Yang selalu mengejekku Yang selalu mencibir kebodohanku Cukup....... Tak kan kusia-siakan lagi waktuku Tak kan kusia-siakan waktuku berlalu tanpa sapa Tak kan kubiarkan detik waktu berjalan tanpa makna Selamat tinggal sepi Hidup hanya sekali Tak kan lagi kulewatkan sedetikpun mimpi-mimpi indah di depan mata Bersamamu......kekasihku......

Ketika Cinta Mulai Menyapa

Mendung mungkin masih menggantung Mentaripun enggan bersinar Masih dalam kesendirian  Meresapi kisah perjalan yang harus berakhir luka Inilah hidup  Kadang tak seperti apa yang kita harapkan Iklas...... Kata itu mungkin bisa membuat kita menerima segalanya Dan saat segalanya diam  Kau datang menyapaku Tak terbersit olehku sapamu kan bermakna buatku Senyummu menguatkanku Kata-katamu mengembalikan rasa percayaku  Rasa percaya yang hampir sirna Mungkinkah ini cinta Datang menyapa dan memberi rasa  Rasa yang lama kurindu dan menggetarkan hati Cintamu teruslah menyapaku Kan kujaga rasa ini hanya untukmu

Hujan Datang Tanpa Pesan

Hujan datang tanpa pesan Membasahi disetiap pori bumi yang gersang Sejuk rinai hujan menyentuh kalbu Menyadarkanku dari lamunanku Hujan kali ini mengingatkanku  Akan satu waktu Waktu dimana kau dan aku  dalam kisah yang syahdu Hujan datang mencumbuku Mencabik hati yang rindu Rindu akanmu  Meski separuh kisah tlah kutinggal tapi masih menyisakan rasa  Hujan datang tanpa pesan Menghapus sisa rasaku, Luruhkan kenanganku bersamamu Biarlah rintikmu menghanyutkan semua tentangmu Hanyut terbawa waktu yang terus berlalu.

Aku Tak Kan Merasa Sendiri

Ketika tangan ini tak sanggup lagi mendekap jangan tanyakan kenapa Ketika bibir ini tak lagi bisa tersenyum  jangan tanyakan mengapa Tak kan kau rasakan lagi dekap hangatku Tak kan kau lihat lagi senyum manisku Prahara itu tlah memecahkan harapanku menghempaskanku....  meremukan semua impian-impianku Meredupkan cahaya hidupku Aku terdiam tertunduk....  Bumi yang kupijak serasa berputar Gelap.... seakan kuterjatuh ke dalam jurang yang dalam Tuhan, seperti inikah yang dia inginkan menghancurkan segala impian dan harapanku Ataukah  kan Kau berikan Hidup terindah di sisa hidupku Aku hanya bisa bersyukur jika ujung hidupku tak berakhir bersamanya Tuhan, tak kan pernah kusesali  Kan kurekatkan lagi hati yang tlah retak kan kusongsong mentari yang tak pernah lelah bersinar selama Kau slalu disisi Aku tak kan merasa sendiri.

Balada Seorang Mualaf

Ini bukan cerpen ataupun novel, apalagi dongeng Ini kisah nyata tentang sebuah balada  Balada kehidupan antara manusia dengan Tuhannya Kisah berawal di sebuah rumah dalam pelukan malam nan sunyi mencekam mata ini masih terjaga kulangkahkan kaki kesebuah kamar dimana anakku tidur dalam gelisah kutenangkan dengan belaian kasih sayang Saat aku beranjak keluar mataku tertuju pada lantai seperti tak percaya dan bingung Hingga pertanyaan datang dari mana paku-paku kecil ini datang? Plafon masih bagus dan rapat tak sedikitpun yang rusak tak mungkin paku jatuh begitu saja dari atas Kupunguti satu persatu,kutaruh dalam tangan kudapat separuh genggam Tak berpikir buruk tentang paku dari mana paku itu datang kurebahkan tubuh penatku sambil berpikir.... Mungkinkan paku-paku dibawa seekor tikus tapi untuk apa tikus-tikus itu bawa paku sejak kapan tikus doyan sama paku atau mungkin tikusnya mau bikin rumah gedung  seribu pertanyaan datang tanpa terjawab sampai kelela